Sudahkah Anda Mengawasi Apa yang Anak Anda Tonton?
11 Apr 2017

Di akhir bulan Maret silam masyarakat digemparkan dengan kasus pembunuhan siswa SMA Taruna Nusantara, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yaitu Krisna Wahyu Nurachmad (15). Polisi telah menetapkan tersangka pembunuhan tersebut yang tidak lain adalah teman satu barak dari korban. Pelaku yang berinisial AMR (15) membunuh korban dengan menggunakan pisau dapur yang baru dibelinya dari supermarket.

Kepala Lembaga Perguruan Taruna Nusantara Magelang, Puguh Santoso, menilai bahwa kasus ini sungguh di luar logika. Puguh menjelaskan, proses seleksi masuk SMA Taruna Nusantara sangatlah ketat, baik itu dari segi akademis maupun kesehatan dan kejiwaan. Oleh karena itulah beliau menduga bahwa pengaruh lain yang menyebabkan tersangka nekat membunuh. Pengaruh tersebut adalah gambar atau film yang mengandung unsur kekerasan [1]. Dalam hasil interogasinya pun ditemukan bahwa sebelum membunuh, pelaku menonton film “Rambo” [2]. Adegan dari film tersebutlah yang menginspirasi pelaku untuk menghabisi nyawa korban dengan kejam.

Salah satu adegan dari film "Rambo" (One of the scene from "Rambo" movie)

Kasus perilaku kekerasan dan kejahatan anak/remaja karena dampak dari tayangan media bukanlah pertama kali terjadi. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini masih perlu diperhatikan dengan serius, baik oleh para pendidik maupun orang tua. Berbagai studi dalam skala internasional telah menemukan bahwa tayangan kekerasan dapat memicu perilaku agresif dari anak dan remaja. American Academy of Child & Adolescent Psychiatry (AACAP) memaparkan hasil-hasil penemuan berbagai penelitian tersebut, antara lain [3]:

  • Anak menjadi kebal terhadap kengerian dari perilaku kekerasan
  • Anak mulai menerima dan meyakini bahwa kekerasan merupakan cara untuk menyelesaikan masalah
  • Anak akan meniru kekerasan yang mereka lihat dari media
  • Anak mengidentifikasikan dirinya dengan karakter tertentu dalam film/tayangan (baik itu korban atau pelaku)

National Institute of Mental Health mengidentifikasi beberapa dampak dari menonton tayangan kekerasan yang salah satunya adalah anak akan semakin besar kemungkinannya untuk berperilaku agresif dan melukai orang lain [4]. Albert Bandura, pencetus dari teori yang terkenal yaitu Social Learning Theory pada sekitar tahun 1960an, sepakat dengan hal ini. Social Learning Theory menyatakan bahwa anak mempelajari perilaku dari orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk tokoh dalam tayangan media [5].

Anak-anak dan remaja kita hari ini hidup dikelilingi oleh berbagai platform media dan bahkan mereka sudah dapat mengakses segala sesuatu dari genggaman tangannya. Institusi pendidikan maupun orang tua perlu menyadari betapa media dapat berdampak negatif dalam hidup anak apabila tidak disertai dengan pendampingan yang memadai. Meresponi hal ini, Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) juga telah turut berpartisipasi untuk memperlengkapi orang tua dengan mengadakan seminar-seminar di berbagai unit sekolah di bawah naungan YPPH.

Berkaitan dengan isu anak dan tayangan kekerasan, orang tua harus sedari dini mendampingi anak ketika mengkonsumsi media. AACAP juga memberikan beberapa saran bagi orang tua dan pendidik untuk mengurangi dampak negatif tayangan kekerasan dengan menerapkan beberapa hal:

  • Ikutlah mereka menonton dan perhatikan programnya.
  • Ganti channel atau matikan TV ketika ada adegan kekerasan.
  • Berikan penjelasan tentang bahaya dari tindak kekerasan.
  • Batasi waktu mereka menonton dan menggunakan gadget sambil menjelaskan alasannya.
  • Bekerja sama dengan orang tua lain dalam menerapkan aturan kepada anak-anak mereka.

Pada akhirnya, tanpa Tuhan yang memampukan kita, kita tidak akan mampu menghadapi gempuran dunia yang berusaha menyeret anak-anak kita kepada kejahatan. Pendidikan secara kognitif yang dilengkapi dengan dukungan moral dan spiritual niscaya akan mengurangi dampak-dampak negatif dari gempuran media bagi anak-anak kita.

 

At the end of March, people was shocked by the murder of Krisna Wahyu Nurachmad (15), one of Taruna Nusantara High School students, in Magelang District, Central Java. The police had determined the murderer suspect as the victim’s friend who shared the same barrack. The perpetrator, whose initial is AMR (15) killed the victim with a kitchen knife that he just bought from the supermarket.

Head of Taruna Nusantara Education Institution Magelang, Puguh Santoso, considered this case as illogical. Puguh stated that the selection process to enter Taruna Nusantara High School is highly rigorous, in terms of academic, physical and psychological aspect. Thus, he suspected there was other influence that caused the murder, i.e. violent pictures or film. In the interrogation process it was found that before killing, the perpetrator watched “Rambo” movie. There was one scene from the movie that inspired the perpetrator to ruthlessly murder the victim.

Case about child and adolescent violent behavior caused by violent media exposure has been happening several times. This shows that this issue still need to be taken seriously, both by educators and parents. Several studies on international scale had found that violent media exposure can trigger child and adolescent aggressive behavior. American Academy of Child & Adolescent Psychiatry (AACAP) explained that hundreds of studies have found that:

  • Children may become “immune” or numb to the horror of violence
  • Children may begin to accept violence as a way to solve problems
  • Children may imitate the violence they observe on television (or other media); and
  • Children may identify with certain characters, victims and/or victimizers

National Institute of Mental Health identified some impacts from violent media exposure, and one of them is a higher chance for a child to behave aggressively and harming others. Albert Bandura who proposed the Social Learning Theory on the 1960s agreed with this. Social Learning Theory stated that children may imitate the behavior they have observed, including from a TV character.

            Children and adolescents today are surrounded by many media platforms and even they can access everything from their hand. Educational institution and parents need to realize how the media can negatively impact children’s lives if there is no proper guidance. Responding this situation, Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) also participates in equipping parents by conducting parents’ seminars in many school units under YPPH.

            Regarding the issue of child and violent media exposure, parents must accompany and guide their children when using media since early age. AACAP also suggests parents and educators to minimize the negative impact of violent media exposure by applying several things:

  • Accompany them when watching TV and pay attention on the programs
  • Switch the channel or turn off the TV when violent scene occurs.
  • Give explanation the danger of violent behavior.
  • Limit their time in watching TV or using gadgets and explain the reason.
  • Cooperate with other parents in applying rules to their children.

At last, without God who enables us, we are not able to face the world challenges that try to harm our children. Cognitive education equipped with moral and spiritual support can eventually lower the negative impacts of media exposure to our children. (IA)

 

See Also: