Global Issues Network Indonesia (GINDO) 2017 at SPH Lippo Village
17 Apr 2017

Konferensi Global Issues Network Indonesia (GINDO) diadakan siswa Sekolah Pelita Harapan (SPH) untuk membahas isu-isu global demi mendorong setiap orang untuk menjadi agen perubahan. Konferensi GINDO tahun ini di SPH Lippo Village diadakan selama dua hari, yaitu Sabtu-Minggu, 1-2 April 2017. Dengan tema “Why Not Start Now?”, konferensi ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran setiap anak muda bahwa mereka juga dapat melakukan perubahan di mulai dari sekarang. Sekitar 400 orang yang terdiri dari siswa, guru, staff dan orang tua berkumpul di ruang Gymnasium 1 untuk mengikuti konferensi ini. Perwakilan dari sekolah-sekolah lain seperti SPH Sentul, Sekolah Bogor Raya, British School Jakarta, Jakarta Intercultural School, Anglo-Chinese School Jakarta dan Sekolah BPK Penabur, turut menghadiri konferensi ini.

Terdapat pembicara-pembicara inspiratif dari berbagai bidang yang memeriahkan konferensi ini. Berikut adalah para pembicara dari GINDO 2017:

  1. Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta
  2. Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman
  3. Mocthar Riady, pendiri dan presiden dari Lippo Group
  4. Andreas Nawawi, Direktur PT. Paramount Land
  5. Faye Simanjuntak, pendiri dari Rumah Faye, yayasan yang membantu korban perdagangan anak
  6. Martin Anugrah, pendiri dari Cameo Project, creative house yang banyak berkarya di bidang video online dan film pendek
  7. Davyn Sudirdjo, penggagas aplikasi e-Tani yang membantu mensejahterakan kehidupan petani

Faye Simanjuntak

Selain dari latar belakangnya yang beragam, keunikan dari GINDO adalah terdapat pembicara senior maupun yang berusia muda. Faye Simanjuntak (15 tahun) sebagai pembicara termuda dari GINDO 2017 merasa sangat tidak berpengalaman dibandingkan pembicara-pembicara lainnya. Akan tetapi ia percaya bahwa anak muda dapat melakukan perubahan. Digerakkan oleh fakta yang memprihatinkan akan tingginya perdagangan dan prostitusi anak di Indonesia, Faye Simanjuntak merasa bertanggung jawab. “Sebagai anak perempuan yang lahir di Indonesia yang bisa saja dengan mudahnya terlahir dalam kondisi di mana saya dapat mengalami perdagangan seks, saya merasa bertanggung jawab.” Lahir dari gagasan seorang anak muda, Rumah Faye pun didirikan sejak tahun 2013 menjadi satu-satunya organisasi non-profit berbasis Indonesia yang mengatasi masalah perdagangan dan prostitusi anak.

Davyn Sudirdjo

Pembicara muda lainnya, Davyn Sudirdjo (16 tahun), menerapkan cara lain untuk menjadi agen perubahan. Berbekal dari perjalanan mengunjungi desa dalam rangka acara sekolah, Davyn Sudirdjo mulai peduli akan nasib dari para petani. Sejak itu, ia memiliki visi yang tidak biasa untuk anak seusianya, yaitu mensejahterakan hidup para petani. Inilah yang menjadi visi dari aplikasi e-Tani. Misi dari e-Tani untuk mencapai visi tersebut adalah dengan cara memotong rantai pemasaran, agar hasil dari pertanian dapat langsung dipasarkan kepada pembeli, tanpa melalui tengkulak. Namun niat mulia dan usaha Davyn tidak selalu berjalan mulus. Terkadang ada beberapa petani yang kurang menghargai karena usianya yang muda. Tantangan lain juga muncul ketika petani di daerah tertentu belum melek teknologi dan bagaimana dapat mengubah pola pikir lama mereka. Tetapi satu demi satu Davyn melewati tantangan tersebut. Melalui sosialisasi dan pendekatan yang merakyat, secara bertahap semakin banyak petani yang mulai menggunakan aplikasi e-Tani dan mendapatkan manfaat darinya. Akhirnya, pesan Davyn kepada teman-teman anak muda adalah mulailah sejak usia muda ketika masih banyak waktu.

Andreas Nawawi

Mochtar Riady

Dari perspektif pembicara yang lebih senior, Andreas Nawawi juga mendorong anak-anak muda untuk melakukan perubahan, namun tidak perlu dengan suatu cita-cita yang muluk-muluk. “Jangan pernah berpikir mau merubah Indonesia. Pertama, ubahlah diri sendiri. Mulai dari diri, lingkungan, keluarga terdekat, baru bangsa”. Beliau juga memberikan perspektifnya dari sudut pandang seorang ayah. Seringkali seorang anak muda merasa orang tua mereka sudah kuno, namun sebenarnya kita tetap membutuhkan bimbingan ayah kita yang sudah lebih berpengalaman untuk mengembangkan masa depan kita yang lebih baik. Pembicara senior lainnya yaitu Mochtar Riady, mendorong agar kita senantiasa melihat arah tren dunia dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Luhut Pandjaitan

“Anak-anak muda Indonesia perlu diinspirasi untuk berkarya. Jangan berpikir hanya di luar negeri saja yang hebat. Banyak mata yang sedang melihat ke Indonesia. Oleh karena itu, pergilah ke sekolah mana pun, tapi at the end kembalilah ke Indonesia untuk berkarya,” tutur Luhut Pandjaitan. Luhut juga mengingatkan para siswa bahwa banyak teman-teman lain di daerah lain yang tidak seberuntung mereka. Kualitas pendidikan di daerah-daerah lain masih banyak yang perlu ditingkatkan dan pemerintah satu per satu sedang mengerjakan perubahan-perubahan.

Martin Anugrah (tengah) bersama dengan panitia GINDO 2017 & Davyn Sudirdjo

Dalam wawancaranya, Martin Anugrah memberikan pandangannya akan apa yang sebenarnya menjadi masalah terbesar zaman ini, khususnya di kalangan anak muda. Ia memberikan tiga poin: ketidakpedulian, individualisme dan tidak mau susah. Hal ini yang membuat banyak anak muda tidak mau melakukan sesuatu untuk menciptakan suatu perubahan. Masalah di sekeliling kita tidaklah sedikit dan tidak statis, melainkan akan selalu berkembang. Adalah tanggung jawab kita, anak-anak muda, apakah kita mau 5 atau 10 tahun lagi masalah itu bertambah besar, semakin kecil, atau terselesaikan. Oleh karena itulah peran komunitas seperti apa yang dikerjakan dalam GINDO ini sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, dimulai dari komunitas kita sendiri.

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Hal ini sejalan dengan apa yang menjadi poin dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ahok melihat pentingnya acara seperti ini karena anak-anak muda belum tentu menyadari akan perkembangan yang terjadi secara global. Harapan Ahok adalah anak-anak muda boleh memiliki rasa empati untuk menyadari bahwa lingkungan sekitar membutuhkan kita. Kualitas hidup anak-anak muda zaman sekarang semakin baik dan rasa empati harus semakin dilatih, agar kita tidak hidup menjadi manusia-manusia yang egois. “Kita harus keluar dari zona nyaman untuk melayani,” tuturnya.

Sungguh merupakan suatu hak istimewa bagi keluarga SPH untuk kedatangan pembicara-pembicara yang begitu inspiratif dalam GINDO tahun ini. Kita berharap melalui acara ini, muncul calon-calon pemimpin yang menjadi agen perubahan dan mengaplikasikan penebusan yang restoratif melalui berbagai bidang demi kemuliaan Tuhan.

 

See Also: