Implementation of Interdisciplinary Curriculum at SLH Kupang, SLH Labuan Bajo and SLH Sangihe
02 Jun 2017

Kurikulum interdisipliner — atau yang juga dikenal dengan kurikulum terintegrasi — telah mendapatkan perhatian yang signifikan dalam dunia pendidikan. Salah satu definisi sederhana dari kurikulum interdisipliner adalah kurikulum yang menerapkan kombinasi dari beberapa mata pelajaran sekolah ke dalam satu proyek atau kegiatan. Sekolah Lentera Harapan (SLH), sebagai sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Pelita Harapan juga turut mengimplementasikan kurikulum interdisipliner melalui kegiatan-kegiatan sekolah. SLH Kupang, Labuan Bajo dan Sangihe merupakan sebagian contoh unit SLH yang menerapkan hal ini.

SLH Kupang

SLH Kupang menerapkan cara yang berbeda bagi pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) kali ini. Walaupun masih berada dalam lingkup kurikulum KTSP, bentuk UTS SMP dan SMA di SLH Kupang adalah ujian berbasis proyek. Dalam proyek ini beberapa mata pelajaran dikolaborasikan. Berikut ini beberapa contoh proyek yang dikerjakan oleh siswa:

  • “Menjelaskan Prosedur Membuat Hidangan Penutup (Dessert) Berbahan Dasar Pangan Lokal”: kolaborasi mata pelajaran Pangan Lokal dan Bahasa Inggris kelas VII
  • “Membaca dan Mendiskusikan Berita Dilihat dari Perspektif Iman Kristen”: kolaborasi mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Agama Kristen kelas VIII
  • “Pementasan Drama Sejarah”: kolaborasi mata pelajaran IPS dan Bahasa Inggris kelas VIII
  • “Menggambar Peta SMP Lentera Harapan Kupang dan Menghitung Skalanya”: kolaborasi mata pelajaran Matematika dan IPS, dan proyek-proyek lainnya.

SLH Labuan Bajo

Bulan Maret lalu, SLH Labuan Bajo mengadakan kegiatan Mission Service Learning (MSL) bagi siswa/i SMP. Dalam kegiatan MSL ini, beberapa siswa SMP terjun langsung untuk mengajar anak-anak yang tinggal di pinggir pantai, yaitu di daerah Kampung Air, Kota Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini merupakan kegiatan puncak dari beberapa pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Muatan Lokal dan Bahasa Inggris.

Mata pelajaran Bahasa Indonesia dan PKn dikolaborasi melalui kegiatan mendongeng. Siswa/i SLH Labuan Bajo menceritakan dongeng kepada anak-anak Kampung Air sambil mengajarkan 3 kata ajaib: “Maaf”, “Tolong” dan “Terima Kasih”. Selain itu, mata pelajaran Muatan Lokal dan Bahasa Inggris dikolaborasikan melalui kegiatan memasak makanan lokal kemudian hasil masakan tersebut dijual kepada turis asing dengan menggunakan Bahasa Inggris. Kegiatan MSL diakhiri dengan pemberian donasi kepada anak-anak di Kampung Air.

SLH Sangihe

Siswa/i SMP kelas 8, 11 dan 12 bersama dengan guru pembimbung melakukan kunjungan ke Kantor DPRD Sangihe, Kab. Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada awal bulan April silam. Kunjungan ini merupakan bagian dari pembelajaran PKn, Ekonomi dan Sosiologi. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memahami peran dan fungsi DPRD. Para siswa terlihat begitu antusias dalam menyampaikan pertanyaan-pertanyaan. Semoga melalui kunjungan ini, siswa/i yang terpanggil untuk melayani masyarakat melalui DPRD dapat termotivasi untuk menggenapi panggilan mereka dan dipersiapkan untuk dapat menjalankan peran mereka dengan takut akan Tuhan.

Seluruh kegiatan-kegiatan yang melibatkan kolaborasi beberapa pelajaran ini didasarkan pada pemahaman bahwa hidup kita sebagai orang percaya adalah kehidupan yang terintegrasi. Segala sesuatu yang Tuhan ciptakan di dunia ini saling terkait satu sama lain. Melalui implementasi dari kurikulum interdisipliner ini, siswa/i dipersiapkan untuk menjadi orang-orang yang memiliki kehidupan yang terintegrasi serta dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki dalam kehidupan sehari-hari.

 

Beberapa siswa SLH Labuan Bajo menjual produk mereka kepada turis (Some of SLH Labuan Bajo students sell their products to the tourists)

Interdisciplinary curriculum — also known as integrated curriculum — had significantly drawn the attention of educators in recent years.  Interdisciplinary curriculum is known as a curriculum that combines several school subjects in one particular activity or project. Sekolah Lentera Harapan (SLH), as one of the school systems under Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, has implemented this interdisciplinary curriculum through some school activities. As example are SLH Kupang, Labuan Bajo and Sangihe.

SLH Kupang

SLH Kupang applied a different method of mid term test this year. Although still in the scope of unit level education curriculum (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan /KTSP), SLH Kupang used project based mid term test method for junior and high school. In this project, several school subjects were combined and collaborated.

  • “Explaining the procedure of making a dessert with local ingredients” : collaboration of local food and English subjects of grade 7
  • “Reading and discussing news from Christian faith perspective” : collaboration of Indonesian language and Christian studies of grade 8
  • “Historical drama performance” : collaboration of social science and English subject of grade 8
  • “Drawing map of Lentera Harapan Kupang junior high school and counting its scale” : collaboration of math and social science subject

SLH Labuan Bajo

Last March, SLH Labuan Bajo conducted Mission Service Learning (MSL) for junior high students. In MSL, several junior high students taught the children who live at the coastal area, which is Kampung Air area, Labuan Bajo city, East Nusa Tenggara. This activity was the final project of several subjects, i.e Indonesian language, civil education, local content and English.

Indonesian language and civil education subjects were combined through story-telling activity. They taught the children to say three magic words (“Sorry”, “please” and “thank you”) through story-telling. Besides that, local content and English subject were also combined through cooking local food and selling it to the foreign tourists, thus they had to speak in English. This MSL activity ended with giving donations to the children of Kampung Air area.

SLH Sangihe

Grade 8, 11 and 12 students accompanied by two teachers visited the DPRD (Regional House of Representatives) of Sangihe office, Sangihe island district, North Sulawesi, in early April. This visit was a part of learning of civil education, economy and sociology. The purpose of this visit is to understand DPRD’s role and function. Students were enthusiastic to inquire more about the role and function of DPRD in Sangihe. May the students who are called to serve the people through DPRD can be motivated to fulfill their calling and to become God-fearing officials through this experience.

All of these activities or projects that combined several subjects are based on the understanding that our lives as believers are integrated. Everything created by God in this universe is interconnected to each other. Through the implementation of interdisciplinary curriculum, the students are equipped to be persons who have integrated lives and be able to apply their theoretical knowledge in daily life. (IA)

 

See Also: